Wednesday, 20 February 2013

pht

I.      PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pengertian pengendalian gulma (control) harus dibedakan dengan pemberantasan (eradication). Pengendalian gulma (weed control) dapat didefinisikan sebagai proses membatasi infestasi gulma sedemikian rupa sehingga tanaman dapat dibudidayakan secara produktif dan efisien. Dalam pengendalian gulma tidak ada keharusan untuk membunuh seluruh gulma, melainkan cukup menekan pertumbuhan dan atau mengurangi populasinya sampai pada tingkat dimana penurunan produksi yang terjadi tidak berarti atau keuntungan yang dieroleh dari penekanan gulma sedapat mungkin seimbang dengan usaha ataupun biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain pengendalian bertujuan hanya menekan populasi gulma sampai tingkat populasi yang tidak merugikan secara ekonomic atau tidak melampaui ambang ekonomik (economic threshold), sehingga sama sekali tidak bertujuan menekan populasi gulma sampai nol.
Sedangkan pemberantasan merupakan usaha mematikan seluruh gulma yang ada baik  yang sedang tumbuh maupun alat-alat reproduksinya, sehingga populasi gulma sedapat mungkin ditekan sampai nol. Cara ini mungkin baik bila dilakukan pada areal yang sempit dan tidak miring, sebab pada area yang luas cara ini merupakan sesuatu yang mahal dan pada tanah miring kemungkinan besar menimbulkan erosi Eradikasi pada umumnya hanya dilakukan terhadap gulma-gulma yang sangat merugikan dan pada tempat-tempat tertentu.

1.2.Perkembangan Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma meskipun merupakan disiplin ilmu baru, tetapi merupakan seni yang relatif  tua. Perkembangan pengendalian gulma dari masa Mesir Kuno dan Mesopotamia pada tahun 6000 SM sampai masa pengendalian gulma modern telah banyak ditulis. Pada garis besarnya sebelum abad ini adalah era pengendalian gulma secara manual, kulturteknis dan mekanis. Selanjutnya pada awal abad ini mulai digunakan bahan kimia anorganik seperti tembaga sulfat, tembaga nitrat, asam sulfat, natrium arsenit, natrium khlorat dan sebagainya, yang pada umumnya digunakan untuk mengendalikan gulma daun lebar pada tanaman serealia. Pengendalian gulma sebagai disiplin ilmu adalah akibat atau hasil dari penelitian. Penemuan senyawa kimia anorganik untuk mengendalikan gulma pada umumnya terjadi secara kebetulan, namun kemudian secara sistematik melalui penelitian. Periode penelitian herbisida anorganik telah melahirkan konsepsi translokasi dan selektivitas herbisida yang dikemudian hari memegang peranan penting dalam pengembangan herbisida.
      Tonggak sejarah pengendalian gulma modern adalah dengan ditemukannya 2,4 D sebagai herbisida pada tahun 1944. sejak saat itu dimulailah era pengendalian gulma secara kimiawi dan jutaan US dollar disediakan oleh perusahaan agrokimia bagi penelitian untuk menghasilkan herbisida baru terutama dari senyawa organik. Antara tahun 1952 sampai dengan tahun 1969 di Amerika Serikat telah dihasilkan 75 jenis bahan aktif herbisida baru atau rata-rata lebih dari 4 bahan aktif herbisida baru pertahun. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 150 bahan aktif herbisida terutama dari senyawa organik.
Berkembangnya pengakuan akan pentingnya pengendalian gulma sebagai disiplin ilmu yang dinamis menyebabkan Departemen di beberapa Universitas di Amerika Serikat diubah namanya dengan penambahan kata ”Weed”. Pertama kali adalah Mississipi State University pada tahun 1963 membentuk Departement of Plant Pathology, Seed and Weed Science, kemudian menyusul Universitas lainnya seperti Departement of Plant Pathology, Seed an Weed Science di Lowa State University, Departement of Plant Pathology, Physiology and Weed Science di Virginia Tech University, dan Departement of Plant Pathology Virginia Tech University, dan Departement of Plany Pathology and Weed Science di Colorado State University. Pada umumnya di Amerika Serikat bidang keahlian gulma berada pada departemen ilmu tanaman, agronomi, hortikultura, botani atau kehutanan.
      Berkembangnya pengakuan akan pentingnya pengendalian gulma di Indonesia telah dipublikasi. Soerjani (1986) membagi sejarah gulma di Indonesia menjadi zaman pendahulu (sampai tahun 1950), zaman Perintis (1951-1970) dan zaman Pendasar (1971-1990). Tahun 1970 merupakan titik tolak penting bagi perkembangan pengendalian gulma di Indonesia dengan dibentuknya Himpunan Ilmu Tumbuhan Pengganggu Indonesia (HITPI) yang kemudian menjadi Himpunan Ilmu Gulma Indonesia (HIGI) dan disusul dengan terselenggaranya konferensi pertama di Bogor tahun 1971, dengan konferensi berikutnya setiap 2 tahun sekali. Mungkin Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah perguruan tinggi pertama yang memberikan mata kuliah gulma pada program S1 yakni mulai pertengahan tahun 1960-an. Saat ini hampir semua Fakultas Pertanian di Indonesia baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta memberikan mata kuliah gulma pada program S1. perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pascasarjana bidang keahlian gulma adalah IPB, Unpad, UGM, dan Unibraw. Pada umumnya bidang gulma bernaung dibawah depertemen ilmu tanaman atau agronomi.

1.3.Konsepsi Pengendalian Gulma
Tingkat pengaruh yang ditimbulkan gulma terhadap tanaman pokok ditentukan oleh beberapa faktor yang meliputi faktor fisik, biologi dan kultur teknis. Faktor fisik mencakup kelembaban tanah, intensitas cahaya, temperatur, kesuburan tanah dan curah hujan. Faktor biologi mencakup komposisi dan kerapatan koloni gulma, tipe tanaman pokok, kerapatan tanaman pokok, serangga dan patogen (penyebab penyakit). Faktor-faktor tersebut menentukan apakah keseimbangan suatu pertanaman akan bergeser ke arah tanaman pokok atau ke arah gulma (crop-weed balance). Oleh karena itu dalam setiap upaya pengendalian gulma harus memperhatikan faktor-faktor crop-weed balance itu.
Pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan usaha meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan daya saing gulma. Keunggulan tanaman pokok harus menjadi sedemikian rupa sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhannnya secara berdampingan atau pada waktu bersamaan dengan tanaman pokok. Dalam pengertian ini semua praktek budidaya di pertanaman (sejak penyiangan lahan) dapat dibedakan antara yang lebih meningkatkan daya saing tanaman pokok atau meningkatkan daya saing gulma. Praktek budidaya yang keliru akan berakibat seperti yang disebutkan terakhir.
Pelaksanaan pengendalian gulma hendaknya didasari dengan pengetahuan yang cukup mengenai gulma yang bersangkutan. Apakah gulma tersebut bersiklus hidup annual, biennial ataupun perennial, bagaimana berkembang-biaknya, bagaimana sistem penyebarannya, bagaimana dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dimana saja distribusinya, bagaimana bereaksi terhadap perubahan lingkungan, dan bagaimana tanggapannya terhadap perlakuan-perlakuan tertentu termasuk penggunaan zat-zat kimia berupa herbisida.
Tidak ada satupun metode/cara yang dapat mengendalikan semua species gulma secara tuntas di pertanaman. Suatu metode mungkin dapat menekan species-species tertentu, tetapi beberapa species yang lain justru mendapat pengaruh yang menguntungkan baik langsung ataupun tidak langsung. Jika satu atau beberapa species gulma dibunuh maka akan diganti species lain dan ini mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih berat dari species-species sebelumnya.
Bila suatu metode dipraktekkan terus-menerus pada beberapa musim, maka species-species gulma yang terpengaruhi secara menguntungkan cenderung akan mendominasi di musim selanjutnya. Peristiwa ini yang memungkinkan timbulnya species-species gulma utama (major weed species) yang mendominasi suatu pertanaman. Sebagai contoh pada pertanaman sayuran dataran tinggi karena frekuensi pengerjaan tanah yang tinggi dan praktek penyiangan yang teratur maka species-species gulma yang kurang vigor seperti Ageratum conyzoides dan Ageratum hastoneanum ternyata tertekan, sebaliknya memunculkan species-species gulma yang vigor seperti Galinsoga parviflora, Eleusine indica dan Polygonum nepalense.
Efisiensi pengendalian gulma tergantung efektivitas tindakan yang memadai untuk mencapai batas minimun pengendalian tertentu. Pengendalian gulma secara penuh dibawah semua kondisi mungkin tidak diperlukan dan tidak dianjurkan. Pada semua pertanaman terdapat suatu periode yang saat itu gulma seharusnya dipertahankan dibawah batas daya-saing tertentu sehingga dicapai produksi maksimum dan periode dimana gulma dapat dibiarkan tumbuh dengan tanaman tanpa mengurangi produksi sehingga tindakan pengendalian tidak diperlukan. Pengendalian gulma yang penting dilaksanakan pada semua pertanaman umumnya pada saat periode kritis persaingan gulma.


1.4.            Analisis Masalah
Untuk melihat suatu masalah gangguan gulma pada suatu areal perlu dilaksakan suatu analisa masalah gulma, hal ini bertujuan agar dalam pengendalian tercapai sasaran yang tepat baik dalam pengendalian tercapai sasaran yang tepat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Analisis masalah gulma terdiri dari beberapa tahapan diantaranya:
  1. Identifikasi gulma: ini berguna untuk dapat mengklasifikasikan gulma yang didapati di areal tersebut, sehingga kita dapat menentukan suatu tindakan pengendalian yang tepat.
  2. Identifikasi lapangan: berguna untuk melihat keadaan lapangan misalnya: keadaan topografinya: hal ini bermanfaat untuk menentukan salah satu metoda pengendalian yang sesuai.
  3. Identifikasi tanaman utama, hal ini perlu diketahui karena setiap tanaman berbeda kepekaannya terhadap persaingan gulma.
  4. Kerugian yang ditimbulkan gulma tersebut, diselidiki apakah masih di bawah atau sudah di atas batas ambang ekonomi.
  5. Penetapan metode pengendalian, hal ini dengan memperhatikan point 1 sampai 4 di atas.
















Gambar -1. Tahapan prosedur pengelolaan gulma
  1. Pelaksanaan metoda pengendalian yang sudah ditetapkan.
  2. Analisa hasil pengendalian, apakah efektif atau tidak berhasil, jika tidak berhasil dapat dievaluasi kembali untuk mengetahui kesalahan.
Secara garis besarnya dalam pengelolaan tumbuhan pengganggu didapati 4 tahapan (Gambar 1), yaitu:
1.      Identifikasi problem
2.      Pemilihan metoda pengendalian
3.      Pelaksanaan metoda pengendalian
4.      Pengelolaan jangka panjang

1.5.Teknik Pengendalian Gulma
Terdapat beberapa metode/cara pengendalian gulma yang dapat dipraktekkan di lapangan. Sebelum melakukan tindakan pengendalian gulma sangat penting bagi kita mengetahui cara-cara tersebut guna memilih cara yang paling tepat untuk suatu jenis tanaman budidaya dan gulma yang tumbuh di suatu daerah.
Teknik pengendalian yang tersedia adalah :
a.       Pengendalian dengan upaya preventif (pembuatan peraturan/perundangan, karantina, sanitasi, dan peniadaan sumber invasi).
b.      Pengendalian secara mekanis/fisik (pengerjaan tanah, penyiangan, pencabutan, pembabatan, penggenangan dan pembakaran).
c.       Pengendalian secara kultur-teknis (penggunaan jenis unggul terhadap gulma  pemilihan saat tanam, cara tanam-perapatan jarak tanam/heavy seeding, tanaman sela, rotasi tanaman dan penggunaan mulsa).
d.      Pengendalian secara hayati (pengadaan musuh alami, manipulasi musuh alami dan pengelolaan musuh alami yang ada disuatu daerah).
e.       Pengendalian secara kimiawi (herbisida dengan berbagai formulasi, surfaktan, alat aplikasi dsb).
f.       Pengendalian dengan upaya memanfaatkan (untuk berbagai keperluan seperti sayur, bumbu, bahan obat, penyegar, bahan kertas/karton, biogas, pupuk, bahan kerajinan dan makanan ternak).
Ditinjau dari berbagai teknik pengendalian yang tersedia, biasanya cara yang digunakan tergantung tingkat usaha-tani, tanaman yang diusahakan , kultur teknis, kemampuan teknologi, dan status ekonomi petani. Pengendalian gulma tanpa herbisida biasanya sangat mahal dan kurang efesien. Sebagai contoh di Amerika Serikat pengendalian mekanis gulma air memerlukan biaya 7-10 kali lipat dibandingkan pengendalian dengan herbisida, sedang di Indonesia pengendalian mekanis gulma air di Rawa Pening memerlukan biaya sekitar 6-8 kali lebih mahal daripada cara kimia. Pengendalian hayati merupakan harapan lain yang ternyata juga tidak cukup lincah, karena hanya beberapa jenis gulma yang dapat dikendalikan secara hayati. Pengendalian gulma diperkebunan dengan penggembalaan, misalnya dengan biri-biri juga merupakan salah satu kemungkinan cara pengendalian yang didasarkan pada kemampuan alam seperti jenis tanaman yang dapat tumbuh cepat, tajuknya cepat menutup tanah dan mampu mengadakan persaingan dengan gulma, ternyata belum dikembangkan dengan baik (baru dalam taraf penjajangan dan percobaan). Kemungkinan lain yang sedang dikembangkan adalah pengendalian dengan memadukannya bersama cara pengelolaan tanaman yang lain seperti pemupukan. Pengendalian gulma di Indonesia masih banyak dilakukan dengan tenaga manusia, meski demikian penggunaan herbisida juga menunjukka gejala yang meningkat. Pengendalian gulma dengan herbisida banyak dilakukan di perkebunan teh, karet, kelapa sawit, kelapa tebu, kapas, kina dan coklat.
Dalam perkembangan teknologi pengendalian gulma selanjutnya ternyata pengendalian tanpa herbisida kurang mendapat perhatian baik oleh pakar maupun praktisi, karena kurang mengundang inovasi teknologi. Cara pengendalian tanpa herbisida yang masih mengundang inovasi adalah penggunaan alat-alat seperti pemotong gulma, traktor dan sebagainya. Sedangkan pengendalian gulma dengan herbisida banyak memperoleh perhatian karena lebih mengundang inovasi teknologi dan menyangkut kelayakan ekonomi. Dewasa ini beberapa alat aplikasi dan formulasi yang lebih sesuai telah ditemukan seperti formulasi herbisida cepat lambat (slow-relase formulation), herbisida allelochemical dan herbisida microbial.


Jadi dengan melaksanakan analisa masalah gulma, dapatlah menghemat biaya pengendalian dan mempercepat pekerjaan pengendalian, sehingga masalah tumbuhan dapat teratasi.



No comments:

Post a Comment