I.
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pengertian pengendalian gulma (control) harus dibedakan
dengan pemberantasan (eradication). Pengendalian gulma (weed control) dapat didefinisikan sebagai proses membatasi
infestasi gulma sedemikian rupa sehingga tanaman dapat dibudidayakan secara
produktif dan efisien. Dalam pengendalian gulma tidak ada keharusan untuk
membunuh seluruh gulma, melainkan cukup menekan pertumbuhan dan atau mengurangi
populasinya sampai pada tingkat dimana penurunan produksi yang terjadi tidak
berarti atau keuntungan yang dieroleh dari penekanan gulma sedapat mungkin
seimbang dengan usaha ataupun biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain
pengendalian bertujuan hanya menekan populasi gulma sampai tingkat populasi
yang tidak merugikan secara ekonomic atau tidak melampaui ambang ekonomik (economic threshold), sehingga sama
sekali tidak bertujuan menekan populasi gulma sampai nol.
Sedangkan pemberantasan merupakan usaha mematikan
seluruh gulma yang ada baik yang sedang
tumbuh maupun alat-alat reproduksinya, sehingga populasi gulma sedapat mungkin
ditekan sampai nol. Cara ini mungkin baik bila dilakukan pada areal yang sempit
dan tidak miring, sebab pada area yang luas cara ini merupakan sesuatu yang
mahal dan pada tanah miring kemungkinan besar menimbulkan erosi Eradikasi pada
umumnya hanya dilakukan terhadap gulma-gulma yang sangat merugikan dan pada
tempat-tempat tertentu.
1.2.Perkembangan Pengendalian
Gulma
Pengendalian
gulma meskipun merupakan disiplin ilmu baru, tetapi merupakan seni yang
relatif tua. Perkembangan pengendalian
gulma dari masa Mesir Kuno dan Mesopotamia pada tahun 6000 SM sampai masa
pengendalian gulma modern telah banyak ditulis. Pada garis besarnya sebelum
abad ini adalah era pengendalian gulma secara manual, kulturteknis dan mekanis.
Selanjutnya pada awal abad ini mulai digunakan bahan kimia anorganik seperti
tembaga sulfat, tembaga nitrat, asam sulfat, natrium arsenit, natrium khlorat
dan sebagainya, yang pada umumnya digunakan untuk mengendalikan gulma daun
lebar pada tanaman serealia. Pengendalian gulma sebagai disiplin ilmu adalah
akibat atau hasil dari penelitian. Penemuan senyawa kimia anorganik untuk
mengendalikan gulma pada umumnya terjadi secara kebetulan, namun kemudian
secara sistematik melalui penelitian. Periode penelitian herbisida anorganik
telah melahirkan konsepsi translokasi dan selektivitas herbisida yang
dikemudian hari memegang peranan penting dalam pengembangan herbisida.
Tonggak sejarah pengendalian gulma modern
adalah dengan ditemukannya 2,4 D sebagai herbisida pada tahun 1944. sejak saat
itu dimulailah era pengendalian gulma secara kimiawi dan jutaan US dollar
disediakan oleh perusahaan agrokimia bagi penelitian untuk menghasilkan
herbisida baru terutama dari senyawa organik. Antara tahun 1952 sampai dengan
tahun 1969 di Amerika Serikat telah dihasilkan 75 jenis bahan aktif herbisida
baru atau rata-rata lebih dari 4 bahan aktif herbisida baru pertahun. Hingga
saat ini telah ditemukan lebih dari 150 bahan aktif herbisida terutama dari
senyawa organik.
Berkembangnya pengakuan akan
pentingnya pengendalian gulma sebagai disiplin ilmu yang dinamis menyebabkan
Departemen di beberapa Universitas di Amerika Serikat diubah namanya dengan
penambahan kata ”Weed”. Pertama kali adalah Mississipi
State University pada tahun 1963 membentuk Departement of Plant Pathology, Seed
and Weed Science, kemudian menyusul Universitas lainnya seperti Departement of
Plant Pathology, Seed an Weed Science di Lowa State University, Departement of
Plant Pathology, Physiology and Weed Science di Virginia Tech University, dan
Departement of Plant Pathology Virginia Tech University, dan Departement of
Plany Pathology and Weed Science di Colorado State University. Pada umumnya di Amerika Serikat bidang
keahlian gulma berada pada departemen ilmu tanaman, agronomi, hortikultura,
botani atau kehutanan.
Berkembangnya pengakuan akan pentingnya
pengendalian gulma di Indonesia telah dipublikasi. Soerjani (1986) membagi
sejarah gulma di Indonesia menjadi zaman pendahulu (sampai tahun 1950), zaman
Perintis (1951-1970) dan zaman Pendasar (1971-1990). Tahun 1970 merupakan titik
tolak penting bagi perkembangan pengendalian gulma di Indonesia dengan
dibentuknya Himpunan Ilmu Tumbuhan Pengganggu Indonesia (HITPI) yang kemudian
menjadi Himpunan Ilmu Gulma Indonesia (HIGI) dan disusul dengan
terselenggaranya konferensi pertama di Bogor tahun 1971, dengan konferensi
berikutnya setiap 2 tahun sekali. Mungkin Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah
perguruan tinggi pertama yang memberikan mata kuliah gulma pada program S1 yakni
mulai pertengahan tahun 1960-an. Saat ini hampir semua Fakultas Pertanian di
Indonesia baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta
memberikan mata kuliah gulma pada program S1. perguruan tinggi yang
menyelenggarakan program pascasarjana bidang keahlian gulma adalah IPB, Unpad,
UGM, dan Unibraw. Pada umumnya bidang gulma bernaung
dibawah depertemen ilmu tanaman atau agronomi.
1.3.Konsepsi Pengendalian Gulma
Tingkat pengaruh yang
ditimbulkan gulma terhadap tanaman pokok ditentukan oleh beberapa faktor yang
meliputi faktor fisik, biologi dan kultur teknis. Faktor fisik mencakup
kelembaban tanah, intensitas cahaya, temperatur, kesuburan tanah dan curah
hujan. Faktor biologi mencakup komposisi dan kerapatan koloni gulma, tipe
tanaman pokok, kerapatan tanaman pokok, serangga dan patogen (penyebab
penyakit). Faktor-faktor tersebut menentukan apakah keseimbangan suatu
pertanaman akan bergeser ke arah tanaman pokok atau ke arah gulma (crop-weed balance). Oleh karena itu
dalam setiap upaya pengendalian gulma harus memperhatikan faktor-faktor
crop-weed balance itu.
Pengendalian gulma pada
prinsipnya merupakan usaha meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan
daya saing gulma. Keunggulan tanaman pokok harus menjadi sedemikian rupa
sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhannnya secara berdampingan
atau pada waktu bersamaan dengan tanaman pokok. Dalam pengertian ini semua
praktek budidaya di pertanaman (sejak penyiangan lahan) dapat dibedakan antara
yang lebih meningkatkan daya saing tanaman pokok atau meningkatkan daya saing
gulma. Praktek budidaya yang keliru akan berakibat seperti yang disebutkan
terakhir.
Pelaksanaan pengendalian gulma
hendaknya didasari dengan pengetahuan yang cukup mengenai gulma yang
bersangkutan. Apakah gulma tersebut bersiklus hidup annual, biennial ataupun
perennial, bagaimana berkembang-biaknya, bagaimana sistem penyebarannya,
bagaimana dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dimana saja distribusinya,
bagaimana bereaksi terhadap perubahan lingkungan, dan bagaimana tanggapannya
terhadap perlakuan-perlakuan tertentu termasuk penggunaan zat-zat kimia berupa
herbisida.
Tidak ada satupun metode/cara
yang dapat mengendalikan semua species gulma secara tuntas di pertanaman. Suatu
metode mungkin dapat menekan species-species tertentu, tetapi beberapa species
yang lain justru mendapat pengaruh yang menguntungkan baik langsung ataupun
tidak langsung. Jika satu atau beberapa species gulma dibunuh maka akan diganti
species lain dan ini mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih berat dari
species-species sebelumnya.
Bila suatu metode dipraktekkan
terus-menerus pada beberapa musim, maka species-species gulma yang terpengaruhi
secara menguntungkan cenderung akan mendominasi di musim selanjutnya. Peristiwa
ini yang memungkinkan timbulnya species-species gulma utama (major weed species) yang mendominasi
suatu pertanaman. Sebagai contoh pada pertanaman sayuran dataran tinggi karena
frekuensi pengerjaan tanah yang tinggi dan praktek penyiangan yang teratur maka
species-species gulma yang kurang vigor seperti Ageratum conyzoides dan Ageratum
hastoneanum ternyata tertekan, sebaliknya memunculkan species-species gulma
yang vigor seperti Galinsoga parviflora,
Eleusine indica dan Polygonum nepalense.
Efisiensi pengendalian gulma
tergantung efektivitas tindakan yang memadai untuk mencapai batas minimun
pengendalian tertentu. Pengendalian gulma secara penuh dibawah semua kondisi
mungkin tidak diperlukan dan tidak dianjurkan. Pada semua pertanaman terdapat
suatu periode yang saat itu gulma seharusnya dipertahankan dibawah batas
daya-saing tertentu sehingga dicapai produksi maksimum dan periode dimana gulma
dapat dibiarkan tumbuh dengan tanaman tanpa mengurangi produksi sehingga
tindakan pengendalian tidak diperlukan. Pengendalian gulma yang penting
dilaksanakan pada semua pertanaman umumnya pada saat periode kritis persaingan
gulma.
1.4.
Analisis Masalah
Untuk melihat suatu masalah gangguan gulma pada suatu
areal perlu dilaksakan suatu analisa masalah gulma, hal ini bertujuan agar
dalam pengendalian tercapai sasaran yang tepat baik dalam pengendalian tercapai
sasaran yang tepat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Analisis masalah gulma terdiri dari beberapa tahapan
diantaranya:
- Identifikasi gulma: ini berguna untuk dapat mengklasifikasikan gulma yang didapati di areal tersebut, sehingga kita dapat menentukan suatu tindakan pengendalian yang tepat.
- Identifikasi lapangan: berguna untuk melihat keadaan lapangan misalnya: keadaan topografinya: hal ini bermanfaat untuk menentukan salah satu metoda pengendalian yang sesuai.
- Identifikasi tanaman utama, hal ini perlu diketahui karena setiap tanaman berbeda kepekaannya terhadap persaingan gulma.
- Kerugian yang ditimbulkan gulma tersebut, diselidiki apakah masih di bawah atau sudah di atas batas ambang ekonomi.
- Penetapan metode pengendalian, hal ini dengan memperhatikan point 1 sampai 4 di atas.

Gambar -1. Tahapan prosedur pengelolaan gulma
- Pelaksanaan metoda pengendalian yang sudah ditetapkan.
- Analisa hasil pengendalian, apakah efektif atau tidak berhasil, jika tidak berhasil dapat dievaluasi kembali untuk mengetahui kesalahan.
Secara garis besarnya dalam pengelolaan tumbuhan
pengganggu didapati 4 tahapan (Gambar 1), yaitu:
1.
Identifikasi problem
2.
Pemilihan metoda pengendalian
3.
Pelaksanaan metoda pengendalian
4.
Pengelolaan jangka panjang
1.5.Teknik Pengendalian Gulma
Terdapat beberapa metode/cara
pengendalian gulma yang dapat dipraktekkan di lapangan. Sebelum melakukan
tindakan pengendalian gulma sangat penting bagi kita mengetahui cara-cara tersebut
guna memilih cara yang paling tepat untuk suatu jenis tanaman budidaya dan
gulma yang tumbuh di suatu daerah.
Teknik pengendalian yang
tersedia adalah :
a.
Pengendalian dengan upaya
preventif (pembuatan peraturan/perundangan, karantina, sanitasi, dan peniadaan
sumber invasi).
b.
Pengendalian
secara mekanis/fisik (pengerjaan tanah, penyiangan, pencabutan, pembabatan,
penggenangan dan pembakaran).
c.
Pengendalian
secara kultur-teknis (penggunaan jenis unggul terhadap gulma pemilihan saat tanam, cara tanam-perapatan
jarak tanam/heavy seeding, tanaman sela, rotasi tanaman dan penggunaan mulsa).
d.
Pengendalian
secara hayati (pengadaan musuh alami, manipulasi musuh alami dan pengelolaan
musuh alami yang ada disuatu daerah).
e.
Pengendalian
secara kimiawi (herbisida dengan berbagai formulasi, surfaktan, alat aplikasi
dsb).
f.
Pengendalian
dengan upaya memanfaatkan (untuk berbagai keperluan seperti sayur, bumbu, bahan
obat, penyegar, bahan kertas/karton, biogas, pupuk, bahan kerajinan dan makanan
ternak).
Ditinjau dari berbagai teknik
pengendalian yang tersedia, biasanya cara yang digunakan tergantung tingkat
usaha-tani, tanaman yang diusahakan , kultur teknis, kemampuan teknologi, dan
status ekonomi petani. Pengendalian gulma tanpa herbisida biasanya sangat mahal
dan kurang efesien. Sebagai contoh di Amerika Serikat pengendalian mekanis
gulma air memerlukan biaya 7-10 kali lipat dibandingkan pengendalian dengan
herbisida, sedang di Indonesia pengendalian mekanis gulma air di Rawa Pening
memerlukan biaya sekitar 6-8 kali lebih mahal daripada cara kimia. Pengendalian
hayati merupakan harapan lain yang ternyata juga tidak cukup lincah, karena
hanya beberapa jenis gulma yang dapat dikendalikan secara hayati. Pengendalian
gulma diperkebunan dengan penggembalaan, misalnya dengan biri-biri juga
merupakan salah satu kemungkinan cara pengendalian yang didasarkan pada
kemampuan alam seperti jenis tanaman yang dapat tumbuh cepat, tajuknya cepat
menutup tanah dan mampu mengadakan persaingan dengan gulma, ternyata belum
dikembangkan dengan baik (baru dalam taraf penjajangan dan percobaan).
Kemungkinan lain yang sedang dikembangkan adalah pengendalian dengan
memadukannya bersama cara pengelolaan tanaman yang lain seperti pemupukan.
Pengendalian gulma di Indonesia masih banyak dilakukan dengan tenaga manusia,
meski demikian penggunaan herbisida juga menunjukka gejala yang meningkat.
Pengendalian gulma dengan herbisida banyak dilakukan di perkebunan teh, karet,
kelapa sawit, kelapa tebu, kapas, kina dan coklat.
Dalam perkembangan teknologi
pengendalian gulma selanjutnya ternyata pengendalian tanpa herbisida kurang
mendapat perhatian baik oleh pakar maupun praktisi, karena kurang mengundang
inovasi teknologi. Cara pengendalian tanpa herbisida yang masih mengundang
inovasi adalah penggunaan alat-alat seperti pemotong gulma, traktor dan
sebagainya. Sedangkan pengendalian gulma dengan herbisida banyak memperoleh
perhatian karena lebih mengundang inovasi teknologi dan menyangkut kelayakan
ekonomi. Dewasa ini beberapa alat aplikasi dan formulasi yang lebih sesuai
telah ditemukan seperti formulasi herbisida cepat lambat (slow-relase formulation), herbisida allelochemical dan herbisida
microbial.
Jadi dengan melaksanakan analisa masalah gulma, dapatlah
menghemat biaya pengendalian dan mempercepat pekerjaan pengendalian, sehingga
masalah tumbuhan dapat teratasi.

